[Cerpen] Jendela Tempat Aku Menengokmu

Aku terdiam dalam kebisuan yang telah tervonis dalam diriku sejak aku dilahirkan di dunia ini, bersyukurlah aku karena Tuhan masih memberiku mata yang cerah dan pandangan yang jelas untuk bisa menatap alam dan mendiskripsikannya lewat satuan kata-kata yang akan tersampaikan meski tidak melalui mulut yang kupunya.

Langit adalah teman aku berbicara dan bercengkerama setiap harinya, tidak perlu berbicara dengan mulut, sama denganku, ia menyampaikan keluh bahagianya padaku dan dengan mudahnya ku memahami.

Kedua mata ini memantulkan biasan warna biru cerah yang terlukis di langit, dan bibir ini menyunggingkan senyum begitu saja ketika melihatnya nampak di atas sana.

Pemandangan biru , biru , sangat biru itu menyempurnakan segalanya terhadapmu, laki-laki kala hari cerah.

Aku tidak tahu siapa namamu, tapi kau melewati jalanan yang terlihat dari jendela ku setiap harinya tanpa ku tahu dengan jelas kemana kau pergi dan darimana kau hadir. Tapi hatiku memberimu nama “Shǎnyào” , artinya bersinar. Semua orang Cina pasti tahu itu, apalagi kalau Gulangyu, tempat tertenang di Cina itu saja mengakui kau lebih indah darinya.

Biasanya, di saat hari Senin, kau yang sepertinya berumur 24 tahun itu menata rambutmu begitu rapinya, berwarna hitam pekat, dan itu sangat serasi dengan sepasang alismu yang tebal, mata sipit ciri khas orang Tiongkok, dan bibir merah jambu. Kau menjinjing tas kerja yang mungkin begitu berat tanganmu membawanya, tapi kau hanya berjalan dan tersenyum pada siapa saja tak memperdulikan betapa sakit tanganmu merengkuh pegangannya. Ingin aku berlari menuju mu dan membantumu membawanya, tapi aku tidak bisa, pintu-pintu itu jahat sekali mengunciku.

“Shǎnyào… Shǎnyào” teriak ku yang berusaha selalu memanggil namamu, tapi jelas sudah dunia tahu apa yang akan terjadi, kau tak kan pernah mendengarku, sekeras apapun aku berteriak, hanya akan terdengar seperti isakan burung terbang yang hampir mati hingga akhirnya terjatuh terhempas keras. Kau hanya akan berjalan melewati jendelaku tanpa menoleh sedikitpun, kalaupun akhirnya kau menengok, mungkin kau hanya akan melihat korden putih-biru yang terus bergerak-gerak seiring angin yang berhembus bersamanya. Karena saat itu juga, saat  matamu siap untuk melihatku, saat itu juga ragaku akan pingsan karena aku begitu bahagia karenamu.

hari Selasa kau juga hadir, bersama tas ransel warna putih dan sepeda merah mu. Kali ini rambutmu begitu berantakan, dan earphone terpasang di kedua telingamu, terlihat bibirmu terus berucap seolah kau menyenandungkan lagu yang kau dengar saat itu juga. Disini, Shǎnyào, aku juga memasang earphone ku, berkhayal kita sedang mendengarkannya bersama, lagu ini, lagu favoritku, “김유경 (Kim Yoo Kyung) – Starlight Tears”. Dengan mu aku bernyanyi, dengan mu aku menangis, dengan mu aku membawamu pergi bersama nada-nada piano yang terdengar dari sana.

hari Rabu, hari Kamis, tempat kau bersemayam bersama tumpukan buku yang selalu kau bawa dalam rangkulanmu. Aku begitu iri, aku ingin bersamamu, kau rangkul seperti itu, ada dalam pelukan mu yang hangat, aku ingin menjadi buku itu. Tapi lagi-lagi aku bisa apa ? berkhayal dalam rengkuhanmu seolah kau benar-benar ada di depanku dan merangkulku seperti itu ? pikiran bodoh.

Shǎnyào , Shǎnyào , Shǎnyào , Shining , Shining, Shining , tidak bosan hatiku ini merapal namamu berkali-kali hingga aku cukup lelah dan tertidur kala bulan menjemput waktu ku. Aku membiarkan itu terjadi agar aku dapat bermimpi tentangmu, tentang hari Jumat saat kau biasanya memakai setelah kemeja dan blazer yang rapi, membawa kamera lomo yang sepertinya sudah begitu tua. Dalam mimpiku, kau memotretku, setiap detik aku tertawa karena leluconmu, setiap detik aku tersenyum karena pujianmu, dan setiap detik aku melangkah karena mengejarmu.

“Jiaya ! bangun ! kau harus membantu Ayahmu mendirikan karangan bunga di depan rumah !”

Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, Ibu sudah berdiri di samping ranjangku, dengan mata melotot siap menerkamku. Hari ini hari peringatan kematian kakek ku, biasanya adat kami mengajarkan untuk mendirikan karangan bunga, sekedar untuk mengingat dan menghargai.
“Jiaya ! cepat !”

Aku mengangguk cepat dan berlari menuruni tangga rumah, baru kali ini sejak satu bulan yang lalu aku diperbolehkan keluar rumah. Ibu selalu menjagaku, mengunci pintu kamar setiap saat, dan membuat kulitku ini semakin putih saja tanpa sinar matahari.

Hari ini hari Sabtu, dan sekaramg pukul 8 pagi. Seharusnya Shǎnyào sudah lewat jalan depan rumahku, dengan sepeda nya lagi, dan rambut acak-acakannya. Tapi dimana dia ?

“Jiaya ! Ayahmu sudah tua, kau kesini mau membantuku atau hanya berdiri saja di depan pintu rumah. Sebenarnya siapa yang kau cari ? Aku melihat matamu celingukan mencari-cari …”

Saat itu juga aku melihatnya, Shǎnyào dengan sweater warna merahnya, dengan sepasang alis tebal, mata sipit, dan bibir merah jambu. Shǎnyào dengan rambut yang kini nampak rapi, tidak seperti biasanya.

Ia melangkah begitu tegas, setiap langkahnya membawa percikan cahaya, begitu yang terlihat olehku.

Langit, kali ini aku tidak ingin diam saja, aku ingin memanggilnya “Shǎnyào… Shǎnyào…” sekeras apapun. Aku ingin ia mendengarnya, ingin ia mendengarnya.

“嘿* (hey) ! JIAYA ! anak ini !!!”

Terus Ayah, terus teriakkan namaku, berharap ia mendengarnya dan ikut menatapku.

“家崖* (JIAYA) !”

Sudah, tubuhku sudah kaku, tubuhku sudah lemas juga, tubuhku … juga mataku … bibirku … lidahku … sudah … sudah mati rasa.

Shǎnyào menatapku, Shǎnyào menatapku. Langit, ia menatap ku, aku bisa apa ?

Angin berhembus kencang seakan menerbangkan segalanya, alam membawaku kembali sadar akan kenyataan apa yang kuhadapi sekarang, aku ingin menangis, meluapkan kebahagiaanku begitu dalam. Tuhan, dapatkah Kau mengerti betapa aku ingin waktu berhenti sekarang, sebentar saja … Shǎnyào sedang menatapku dan ia … tersenyum.

Tidak masalah siapa aku, bagaimana cacatku tak bisa memanggilmu, tapi Langit dan Tuhan sama-sama sudah mendengarkannya melalui earphone mu, melalui earphone yang biasanya kita dengarkan setiap hari Selasa. Juga tertera dalam tulisan di setiap buku yang selalu kau bawa di hari Rabu dan Kamis, dan terekam indah dalam kamera lomo mu hari Jumat.

Dan aku membalas senyum mu, dan kita bertatapan selama 5 detik. 5 detik yang panjang, lalu kau melangkah menjauh seraya menaruh sebuah ponsel di telinga kanan mu.

“Jiaya … ” suara Ayah mulai menyadarkanku. Aku telah terbangun dari 5 detik yang menghipnotisku. Kala Shǎnyào tersenyum padaku, dan menatapku. Aku sangat ingin menegaskan bagian terpenting itu.

Aku terdiam dalam kebisuan yang telah tervonis dalam diriku sejak aku dilahirkan di dunia ini, bersyukurlah aku karena Tuhan masih memberiku mata yang cerah dan pandangan yang jelas untuk bisa menatap alam dan mendiskripsikannya lewat satuan kata-kata yang akan tersampaikan meski tidak melalui mulut yang kupunya. Salah satunya dia …

 

Iklan

17 Comments Add yours

  1. Dhimmz berkata:

    Reblogged this on Dhimmz.

  2. diLLa berkata:

    ayahnya kehabisan suara enggak yaa??
    hhaha 😀
    bagussss din,

    1. dindafujisawa berkata:

      hahaha, kayaknya iya dil . kan Jiaya lagi terpesona , hehe XD
      makasih dilaaa 😀

  3. anniechi berkata:

    Uhuk. Oke, karena kegeblekan saya, saya udah nulis komentar panjang lebar tapi salah nge-klik dan akhirnya hilanglah sudah. Komentar penuh perasaan yang sudah saya ketik lenyap, dan saya males ngetik ulang yang persis sama orz #dibuang

    Pertama-tama, saya pengen tanya soal ending. Jadi…. dia tetep jadi not-so-secret admirer tuh?? Huaaa, kasian dong? Ortunya nggak banget pula. Bah.

    Kedua, congratz! Gaya penulisanmu makin bagus, makin berkembang. Perwatakan bagus, feel-nya dapet. Deskrip juga–mungkin bagi sebagian orang kurang gimana gitu, tapi semua orang kan punya style sendiri-sendiri. Dan inilah style-mu. Kamu berhasil membangun suasana dalam kalimat-kalimat itu. Keep it up!

    Hmm, terus untuk sedikit EYD. ‘Ku’ sebagai imbuhan itu digabung sama kata kerja, jadi misalnya “kubawa, kulihat, kataku, teriakku”.

    Terus, yang ini personal taste. Bagi saya pribadi, kalimat-kalimatmu terlalu panjaaang. Nggak selesai-selesai, titiknya nun jauh di ujung sana. Berhubung saya orangnya gampang hilang fokus, jadi bingung deh pas baca kalimat sepanjang itu. Oke, sekali lagi ini personal. Jangan diambil hati. Soalnya, kalimat-kalimat panjang begitu juga termasuk style yang saya sebut tadi. Eheheh. #abaikan

    Oke, cukup deh nge-rambling ulang di sini. Buset, annoyed banget pas harus ngulang! Dx

    Last, keep writing!

    Sign,
    Ann

    1. dindafujisawa berkata:

      anin, arigatou gozaimasu ^^
      wahh, terimakasih banyak (hitung berapa kali saya akan berterimakasih) kekekek xD
      sudah mengorbankan jari-jarimu yang lentik itu menulis lagi begitu panjang #lebay
      pengorbanan mu itu lo nin !!! *nangis darah* udah udah ,

      1. soal not-so-secret admirer , yeah , like that nin, kalau ending happy gitu malah yongalah pasaran banget endingnya , lalu mreka hidup bahagia selamanya, dan satu alasan lagi *aku bego kalau disuruh mikir ending* jadi aku gantungin aja, biar pada nyanyi lagunya melly – gantung *gaknyambung*

      2. makasih banyak ninnnnn (tetap hitung) aku selalu bingung mau bikin style yang seperti apa, aku pikir tulisanku itu masih ngambang, tapi makasih banyak nin , pujian yang bagus 😀 xixixi

      3. itu juga, makasih banyak ninn , koreksinya , hehe

      4. soalnya aku kebawa gitu nin pas nulis, jadinya lupa naruh titik , pasti mau naruh titik ide selalu hilang gitu aja, jadinya aku tulis apa adanya aja, 😀

      thanks a lot nin 😀 keep writing !

  4. anniechi berkata:

    Uhuk. Oke, karena kegeblekan saya, saya udah nulis komentar panjang lebar tapi salah nge-klik dan akhirnya hilanglah sudah. Komentar penuh perasaan yang sudah saya ketik lenyap, dan saya males ngetik ulang yang persis sama orz #dibuang

    Pertama-tama, saya pengen tanya soal ending. Jadi…. dia tetep jadi not-so-secret admirer tuh?? Huaaa, kasian dong? Ortunya nggak banget pula. Bah.

    Kedua, congratz! Gaya penulisanmu makin bagus, makin berkembang. Perwatakan bagus, feel-nya dapet. Deskrip juga–mungkin bagi sebagian orang kurang gimana gitu, tapi semua orang kan punya style sendiri-sendiri. Dan inilah style-mu. Kamu berhasil membangun suasana dalam kalimat-kalimat itu. Keep it up!

    Hmm, terus untuk sedikit EYD. ‘Ku’ sebagai imbuhan itu digabung sama kata kerja, jadi misalnya “kubawa, kulihat, kataku, teriakku”.

    Terus, yang ini personal taste. Bagi saya pribadi, kalimat-kalimatmu terlalu panjaaang. Nggak selesai-selesai, titiknya nun jauh di ujung sana. Berhubung saya orangnya gampang hilang fokus, jadi bingung deh pas baca kalimat sepanjang itu. Oke, sekali lagi ini personal. Jangan diambil hati. Soalnya, kalimat-kalimat panjang begitu juga termasuk style yang saya sebut tadi. Eheheh. #abaikan

    Oke, cukup deh nge-rambling ulang di sini. Buset, annoyed banget pas harus ngulang! Dx
    Baaah, apa-apaan ini kenapa komen saya nggak bisa masuk?? D:

    Last, keep writing!

    Sign,
    Ann

    1. dindafujisawa berkata:

      apa pertama mas ?

  5. ayuna berkata:

    keren dek. kyke udah keliatan karakter penulis nih ditulisan yg ini..hehe
    suka pake deskripsi obyek ya? beberapa kali baca tulisan dek dinda setipe kayak gini..xixi
    tp great writing kok, kayake mbak harus belajar dari dek dinda.. ^^

    1. dindafujisawa berkata:

      alhamdulilah , makasih banyak mbak ay 😀

      ya begitulah, aku lebih suka ke objek daripada pada karakter dan perasaan mbak, lebih nampak dan mudah di bayangkan 🙂

      haha, makasih banyak mbak ay, saling belajar dan mengajari 🙂

  6. ayuna berkata:

    sma2..:)

    xixi, iya sih.. tp mbak blum bisa kalo pke deskripsi obyek, mesti jluntrungnya tetep pke emotion #plak.
    keke~, ok untuk tulisan berikutnya kasih tau mbak ya..:)

    1. dindafujisawa berkata:

      wah keren dong mbak, itu kelemahanku banget , 😀

      sip , pasti mbak ay ^^

  7. maswese berkata:

    ini saya komentari

  8. Dar Moko berkata:

    Bgus brbakat jg jd penulis,tp hrus bnyk 2 baca buku biar bnyk inspirasi

    1. dindafujisawa berkata:

      always , thanks a lot mas 🙂

  9. fadilah nur m berkata:

    wahh,,, bagus.. bagus…
    bisa jadi inspirasi tuh buat ak 🙂
    hehe…. kka pinter dech,
    berbakat banget jdi penulis

    1. dindafujisawa berkata:

      amin 🙂 terimakasih banya dillah, happy writing ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s